Ramadhan: Pentas Para Munafik

Marhaban Ya Ramadhan! Selamat datang bulan suci, bulan di mana pintu taubat dibuka selebar-lebarnya, penuh bonus pahala di mana-mana, bulan diturunkannya Al Qur’an, bulan di mana setan-setan dibelenggu. Bulan di mana membuatku ingat masa kecilku, ingat ta’jilan dan tarawih berjamaah di Mushola Al-Muttaqien, mushola nyempil di gang IX kampungku yang tiap awal Ramadhan selalu membuat orang-orang yang datang belakangan terpaksa ngalah tidak bisa ikut berjamaah gara-gara sudah tidak tersedia tempat lagi. Ingat adzan khas Mas Maman, ingat khotbah yang biasanya dibawakan (alm.) Al-Uztad Jumidin Ansyori yang lebih akrab dipanggil Oom Petrus (sumpah, beliaunya yang minta dipanggil begitu!), dan ingat dzikir yang biasanya dipimpin Oom Fauzi. What a wonderful childhood.Semakin gede ternyata semakin tidak menyenangkan. Maka betullah apa yang dikatakan Soe Hok Gie: “Berbahagialah mereka yang mati muda.” Semakin gede ternyata aku semakin banyak melihat kemunafikan.Coba aja lihat di televisi-televisi swasta kita: Artis-artis kita mendadak jadi alim. Dari yang biasanya mengumbar auratnya sekarang jadi berusaha tampil sopan meskipun nanggung. Yang biasanya goyang seronok ikut-ikutan latah bikin album rohani, yang biasanya asal dada dan selangkangan nggak keliatan sekarang rame-rame pake jilbab. Ditambah lagi dengan gaya ala pandakwah-pendakwah besar, mereka sibuk nyonthong tentang pengalaman rohani mereka, sesekali mencatut ayat Al Qur’an dan hadis yang entah mereka paham makna sebenarnya atau nggak. Bull-shit!Secara subyektif, aku melihat itu semua sebagai sebuah kemunafikan. Mereka tampil seperti itu semuanya bermuara ke duit. Kalo mereka tidak berkopiah dan berjilbab, maka mereka tidak akan kebagian rezeki Ramadhan. Tidak ada stasiun tivi yang mau menampilkan mereka. Dan lagi-lagi memang materi yang menjadi tolok-ukur mereka untuk tampil sesuai akidah yang seharusnya. Ckckck…Sebagai figur publik, seharusnya mereka sadar kalo tingkah mereka akan jadi perhatian masyarakat, dan bukan nggak mungkin masyarakat juga akan mencontoh tingkah-laku mereka. Tapi mungkin memang seperti itulah lika-liku dunia hiburan. Dan aku nggak kaget kalo artis-artis yang masih memiliki hati nurani akhirnya memutuskan untuk tidak aktif di dunia seperti itu, seperti aku nggak kaget ketika Sakti memutuskan mundur dari Sheila on 7. Dunia hiburan memang penuh dengan kemunafikan, dan hanya mereka yang siap untuk menjadi munafik yang bisa eksis di dalamnya. Tentu saja ada beberapa pengecualian. Tapi berapa sih jumlah mereka yang eksis di jalur dakwah kalo dibanding dengan mereka-mereka yang lebih memilih tenggelam dalam kemunafikan asal duit ngalir?Lihatlah betapa Ramadhan ternyata tidak berfaedah memperbaiki tingkah mereka. Begitu Ramadhan berlalu mereka kembali ke tingkah aslinya, “Mau liat dada sama selangkangan gue?” Ke mana sisa-sisa Ramadhan mereka? Nangis-nangisan di tivi selama sebulan ternyata cuma akting sesuai profesi mereka.Mending. Mending yang antara sebelum Ramadhan dan setelah Ramadhan tingkahnya nggak berubah. Ternyata ada yang setelah melewati berkali-kali Ramadhan akhirnya malah tambah rusak. Lihat mereka yang selama ini berjilbab entah pada saat Ramadhan atau tidak. Beberapa dari mereka memutuskan melepas jilbabnya dengan alasan goblok: Belum siap! Lha ya, kalo belum siap kenapa dulu dipake? Lha kok baru sekarang bilang belum siapnya?Sekali lagi, lihatlah betapa Ramadhan ternyata tidak meningkatkan kualitas iman mereka. Lihat artis kita yang berbadan besar itu, yang dulu ngomong, “Rezeki itu datangnya dari Allah. Berjilbab ternyata tidak mengurangi rezeki yang datang kepada saya.” Eee…lhadalah, sekarang ternyata melepas jilbabnya dengan alasan idiot lainnya, “Saya nggak mau terkesan mengkotak-kotakkan manusia dalam beberapa golongan.” Maaaaaak…dia bilang pake jilbab itu pengkotak-kotakan. Sekalian aja nggak usah shalat, nggak usah puasa, nggak usah zakat, nggak usah naik haji, dan nggak usah melakukan ibadah-ibadah Islam lainnya. Kan semuanya itu pengkotak-kotakan sebagai umat Islam, iya nggak? Ditambah lagi, dia memutuskan untuk mentato tubuhnya.Jaman dulu, waktu SMP aku pernah kagum pada seorang konduktor muda yang nama orkestra yang dipimpinnya seperti nama bahan peledak. Sebut saja namanya Bunga (bukan nama sebenarnya). Si Bunga ini masih muda, umurnya waktu itu sepantaran sama aku sekarang, berjilbab, dan terlihat anggun mengkonduktori sebuah orkestra yang selalu tampil dalam setiap acara-acara keislaman. Tapi beberapa saat yang lalu dia menuntut cerai suaminya ditambah melepas jilbabnya dan berbusana seperti busana-busana jahiliyah lainnya. Ya Allah…rusak, dunia makin rusak!Masih banyak contoh lainnya. Tapi berhubung nulis hal-hal semacam itu cuma bikin aku tambah emosi (entah ya, kok aku malah emosi?), kuputuskan cukuplah dengan 2 contoh di atas.Akhirnya, jadikanlah Ramadhan kali ini sebagai ajang instropeksi bagi kita semua. Ambil pelajaran sebanyak-banyaknya, jangan terjebak pada kehidupan yang penuh dengan kemunafikan, dan semoga amal ibadah kita semua pada Ramadhan kali ini diterima oleh Pemilik Nyawa Kita. Semoga juga Ramadhan kali ini mampu membuat kita menjadi manusia yang lebih baik dari saat-saat sebelumnya. Amin!

This entry was posted in The Battle of My Life. Bookmark the permalink.

21 Responses to Ramadhan: Pentas Para Munafik

  1. m00nray says:

    sekali bejat tetep bejat, ngono ae yo Joe kwakwakwakwka

  2. joesatch says:

    betul! seratus! contohlah saya, sekali bajingan tetap bajingan :)

  3. dejavasche says:

    Walah -walah joe…Koq aku bacanya kayak-nya kamu menyalahkan bulan Ramadhan ?? piye too ??Makanya sekarang yang perlu diperabaiki dari Manusia Indonesia adalah akhlak..bagaimana mau kita jauh dari bencana ?? kalo akhlak kita saja nda ada yang bener …bagaimana kalo Indonesia ini pake Syariat Islam saja ??Setuju Joee….

  4. dejavasche says:

    Walah – walah Joe..Koq aku bacanya kayak-nya kamu menyalahkan bulan Ramadhan ??Jadi yang harus diperbaiki dari manusia Indonesia sekarang adalah akhlak…Bagaimana mau jauh dari bencana kalo akhlak saja rusakkss …..Bagaimana kalo Indonesia pake Syariat Islam Setuju Nda Joee ????

  5. joesatch says:

    hehehehe…bukan ramadhannya yg aku salahkan. aku nggak suka aja sama artis2 jaman skrg, kecuali dian sastro dan zaskia mecca, kekekekekekeke!!!

  6. clara says:

    Hhmmm……….

  7. joesatch says:

    Intinya, tulisanku di atas adalah sebuah pandangan picikku terhadap artis2 indonesia jaman skrg, kecuali – sekali lagi – Dian Sastrowardoyo dan Zaskia Mecca, kekekeke! Nggak ada hubungannya dengan Ramadhan. Eh, ada dink… Ramadhan berfungsi sebagai setting untuk menunjukkan inkonsistensi mereka :)

  8. afie_maniez banget says:

    waduh…masJoe ki bisa ngomong ramadhan juga ya….ck..ck…..habis makan apae masJoe?? kok tiba2 jadi aneh gitu..kekekekekekkekkkkk

  9. joesatch says:

    30 Juz Mencari Cinta!Kakakakakaka…

  10. erginkun says:

    apa hubungannya sama dian sastro dan zaskia mecca???

  11. joesatch says:

    adalah bahwa saya menyukai mereka berdua

  12. fauzansa says:

    “Mending. Mending yang antara sebelum Ramadhan dan setelah Ramadhan tingkahnya nggak berubah. Ternyata ada yang setelah melewati berkali-kali Ramadhan akhirnya malah tambah rusak. Lihat mereka yang selama ini berjilbab entah pada saat Ramadhan atau tidak. Beberapa dari mereka memutuskan melepas jilbabnya dengan alasan goblok: Belum siap! Lha ya, kalo belum siap kenapa dulu dipake? Lha kok baru sekarang bilang belum siapnya?”Sekali lagi, urusan hati itu urusan yang bersangkutan dengan Tuhan. Nek urusan syari’at, maka yang dihukumi adalah apa yang tampak dari itu. Mendhing, sebelum ramadhan telanjang, pas ramadhan berjilbab, setelah ramadhan tetap berjilbab. Kuwi sing mendhing joe. Saiki mendhing ra sholat sisan utawa sholat mung dhuhur thok? Mendhing tidak pernah berjilbab atau berjilbab pas pengajian utawa ramadhan thok? Berjilbab itu kewajiban yang terus melekat pada diri manusia. Nek dinggo apik, nek ra dinggo elek. Yah, sekali lagi, yang bisa menilai hati cuma Allah Subhana wa Ta’ala.

  13. joesatch says:

    ah, aku hanya mempermasalahkan alasan2 goblok mereka, kok :) huehehehehehehehe!

  14. joesatch says:

    eh, perbandingan mendingnya antara apa dengan apa dulu?

  15. priandoyo says:

    Hihihihi… *tersenyum kecut

  16. Pingback: Semoga Tak Terjebak Dalam Kepalsuan « FARID/049/APSM I/IMPAS-B

  17. funkshit says:

    lebih baik baik dalam sebulan, jahat 11 bulan daripada jahat selama 12 bulan

  18. Pingback: Semoga Tak Terjebak Dalam Kepalsuan « Generasi Biru

  19. sinting says:

    fuck you..lu semua ga ada kerjaan apa?ngurusin orang lain, kaya lu semua ga punya dosa aja..haree gini ngurusin orang lain! udah ga jaman kaleee.urus aja urusan lu sendiri!dejavasche pake bilang kalo bencana tuh gara2 akhlak yang buruk!ga ada hubungannya kalee. bencana tuh terjadi karena ada ketidakseimbangan di alam.makanya kalo pelajaran geografi jangan bolos mulu.zaskia mecca juga ga mungkin ga pernah dugem dan minum alkohol.secara dunia artis gituh..tai lu semua.

    • rojikan says:

      ni salah satu orang sotoy goblok.. paling goblok dan menggoblokkan diri sndiri…lo jga ngpain pke acara sotoy ngmong zaskia mecca pernah dugem segala….lo tau darimana….muka lo tu kyak tai…sok ngmongin gk usah ngurusin orang lain…lo hidup sendirian…gk diurusin ortu lo…lahir dri batu kali lo…apa turunan monyet kali…

  20. lho, itu fungsinya blog, kan? salah satunya buat ngurusin orang lain. masnya gimana e, masak gitu aja ga paham? :lol:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>