Anak Kesayangan Dewi Fortuna

Kemarin malam, selewat Maghrib, aku lagi nongkrong di Stasiun Lempuyangan. Bukan, sodara-sodara! Aku bukan lagi mencoba profesi baru sebagai preman stasiun. Percumah! Di Lempuyangan nggak ada orang-orang (yang keliatan) kaya yang bisa ta’peras atau ta’rampok. Kalo mau nyari yang kayak gituan, lebih afdol di Stasiun Tugu. Aku di sana dalam rangka mau balik ke Solo buat nganterin bapak sama emak yang mau kembali ke rumah dinasnya di Jakarta sana yang rencananya mau berangkat malam itu dari Stasiun Balapan, Solo, jam 10 malam, naik kereta Argo Lawu.

Dan di Lempuyangan itu aku ketemu sama mantan pemain bass di band-ku jaman dulu, Bramasto, yang ternyata juga sama-sama mau balik ke Solo setelah dia menghabiskan liburannya buat nyambangin pacarnya yang rumahnya di Jokja (atau Bantul, lebih tepatnya).

Obrol punya obrol, si Bram ini ternyata sekarang sudah kerja di Indosat cabang Solo dan dia bilang, “Kebeneran banget aku ketemu kowe. Aku lagi nggoleki wong-wong sing koyo kowe.”

Jadi, menurut pengakuannya, Bram lagi nyari orang-orang buat diikutin jadi tim kreatifnya Indosat Solo kalo Indosat Solo ngadain acara-acara gitu. Kata dia juga, dia agak nggak sreg aja dengan formatnya Indosat selama ini yang dinilai “terlalu biasa-biasa aja”. Bram keinget waktu dulu kami sama-sama nggarap sebuah pameran komputer di Jokja bareng Gentho, Septo, Simbah, Manuk, Agung, Tepe, Arind, plus Nita sebagai tim kreatif.

“Aku butuh wong-wong sing koyo kowe karo cah-cah”, katanya ketika kami sudah melintasi rel kereta menuju Solo (di dalam kereta, tentunya). “Ini memang kerjaan sambilan. Pokoknya kalo ada event, kalian ta’ajak. Cuma ya syaratnya buat jadi tim kreatif ini orangnya harus punya status di Indosat. Minimal – kasarannya – kamu jadi salesnya Indosat aja. Tapi nyante wae, kamu mau jualan atau nggak itu terserah kamu. Kalo mau sambil jualan, suruh aja orang lain buat jadi semacam downline-mu. Nggak ada target bulanan, tapi kalo ada barang yang laku kamu malah dapat bonus. Yang penting sekarang adalah punya status dulu di Indosat,” lanjutnya yang sebenarnya diucapkan menggunakan bahasa Jawa (tapi demi mempermudah pembaca, kayaknya lebih enak kalo langsung kuterjemahkan dalam bahasa Spanyol seperti di atas).

Okelah, jawabku. Toh ini tanpa resiko. Nggak harus daftar sambil mbayar 2 juta buat langsung masuk ke level bintang 3. Jadinya ya tawarannya dia kuiyain aja.

“Besok, tanggal 27 atau 28, cari aku di kantor. Ngerti kantore Indosat Solo, tho? Itu lho, yang di jalan Slamet Riyadi. Mengko ta’kenalke karo manajere sisan. Nek kowe pengen ngumbar nafsumu juga bisa. SPG-SPG-ne neng kono…masyaoloh…”

Lagi-lagi aku oke-oke aja. Terbayang di benakku bersenang-senang sama SPG-SPG yang imut-imut tapi nggak ngeluarin duit, malah justru dapat duit!

Jadi begitulah. Entah kenapa aku selalu merasa disayang oleh Dewi Fortuna. Ada aja yang nawarin obyekan ke aku. Kayak misalnya aja di kerjaanku yang sekarang ini.

Aku ngantor di tempatku yang sekarang gara-gara temenku yang punya usaha itu adalah temen akrabku sendiri sejak jaman esema. Jadilah ketika para lulusan Ilmu Komputer UGM pontang-panting nyari kerjaan, aku malah nggak lulus-lulus kuliah gara-gara sibuk kerja.

Dari kecil rasanya aku ini orang yang beruntung terus. Waktu lulus SD dengan santainya aku melenggang masuk di SMP Negeri 1 Denpasar yang konon adalah SMP terbaik di Bali. Pas pengumuman hasil Ebtanas SMP, nilaiku rendah. Aku sempat kalang-kabut selama beberapa saat waktu itu. Tapi ternyata perolehan NEM murid esempe secara keseluruhan waktu itu memang lagi jeblok. Katanya ada kesalahan prosedural Ebtanas pada jaman itu. Hasilnya, ketika pengumuman penerimaan siswa baru di SMA Negeri 1 (ini esema ngetop, meskipun sekarang kunilai lebih kayak esemanya kaum borjuis), namaku masih ada di halaman awal daftar orang-orang yang lulus seleksi buat masuk di situ.

Terakhir, dengan kegoblokanku di bidang fisika sewaktu jaman esema dulu, lagi-lagi gara-gara ada kesalahan prosedural waktu Ebtanas, nilaiku yang rendah itu masih bisa membuatku masuk di jajaran makhluk-makhluk dengan perolehan nilai di atas rata-rata nilai Ebtanas esemaku, yang disambung dengan terdamparnya aku di UGM sialan ini!

Alhasil, kebetulanku bisa kuliah di UGM ini, membuatku pengen memamerkan jas almamaterku kepada Bu Mari, guru fisika yang selalu meremehkan kemampuanku di depan kelas, besok kalo misalnya aku pulang ke Denpasar. Alhamdulillah, niatku sejak semester 1 itu belum kesampaian sampai sekarang.

Dan kupikir, keberuntunganku selama ini lebih disebabkan karena faktor banyaknya teman yang kumiliki. Akhir-akhir ini banyak sekali teman-temanku dari jaman kecil yang mendadak nawarin obyekan ketika aku sedang (lumayan) kesulitan finansial.

Memang, dari kecil aku bukanlah tipe anak yang tertutup. Sebagai anak yang waktu itu dikategorikan sebagai anak pintar (bahkan beberapa kali dinominasikan buat ikutan acara Cerdas Cermat), aku malah lebih sering bergaul dengan anak-anak yang dicap bermasalah. Kegiatan kami yang rutin adalah ngutil jajan di kantin sekolah ketika jam istirahat. Berkali-kali kami ketahuan sampe akhirnya berkali-kali juga digelandang ke ruang kepala sekolah untuk kemudian dihukum disuruh membersihkan seluruh halaman sekolah.

Temen-temen yang pinter dan pendiam bukannya nggak kugauli. Ketika jaman esema toh aku membutuhkan otak mereka ketika ulangan umum. Maka sebagai kompensasinya, mereka sering kutraktir makan meski menurutku tetap lebih menyenangkan ketika berkumpul dengan teman-teman yang dicap sebagai barisan pembuat onar. Beberapa yang bergaya hidup hedon tidak serta-merta kuhindari meskipun sering juga aku agak keteteran menghadapi gaya hidup mereka. Aku tetap percaya, suatu saat mereka akan jadi penyelamatku.

Ketika kuliah sekarang aku juga begitu. Teman-temanku yang sering nongkrong bareng aku banyak juga yang kuliahnya nggak beres-beres, atau malah sekalian nggak diberesin. Ditambah dengan iklim UGM, aku malah jadi tambah percaya kalo mereka itu bukannya nggak bisa menuntaskan kuliahnya. Mereka justru lebih dibutuhkan saat ini oleh dunia luar ketimbang sibuk dengan diktat dan tugas-tugas rutin di kampus. Kreativitas mereka bakal terpasung kalo mereka malah bersikeras untuk jadi mahasiswa patuh, pintar, dan pendiam yang berencana lulus kuliah secepatnya.

Aku menyebut mereka sebagai “teman-temanku yang cerdas dan ekspresif”!

Kenyataannya, ketika beberapa teman-temanku yang study oriented pas jaman kuliah akhirnya lulus, banyak juga dari mereka yang “cuma” begitu-begitu saja: bekerja dengan normal dengan gaji minimal atau malah masih sibuk ngirim lamaran kerja ke sini-ke situ. Justru teman-temanku yang waktu kuliah pada reaktiflah yang bisa berkembang dengan pesat.

Lebih dari itu semua, teman-temanku yang hobi dolan-dolanlah yang saat ini sering bagi-bagi rejeki sama aku; yang dulu ketika kuliah pikirannya bukan cuma berorientasi lulus secepatnya.

Teman-temanku yang bandel waktu esema sekarang sudah pada punya jenis-jenis usahanya sendiri-sendiri. Aku sering ditawarin obyekan ketika mereka butuh imajinasiku. Temanku tempatku numpang makan di kantornya yang sekarang ini waktu jaman esema juga terkenal “bandel” untuk urusan IT. Otaknya memang encer (wajarlah, mantan peringkat 4 TOKI), tapi nggak digunakan buat mematuhi pelajaran di bidang IPA seperti yang seharusnya dilakukan oleh murid-murid di kelas penjurusan kami. Nilai-nilai pelajaran sekolahnya malah lebih hancur dari aku :mrgreen: Tapi seandainya dia itu murid yang patuh pada birokrasi sekolahan, boleh jadi dia nggak bakal seperti sekarang.

Kesimpulannya, mereka-mereka itulah dewi fortunaku. Seandainya aku tidak bergaul dan rajin nongkrong dengan mereka, aku hampir yakin 100% kalo aku tidak bakal bisa seperti sekarang. Maka seperti yang pernah kuresepkan pada tulisanku sebelumnya, jangan terlalu asyik dan tenggelam dengan diktat-diktat kuliah kita dan berorientasi mati-matian supaya cepat lulus ketika kita di bangku kuliah, sampai mengorbankan pergaulan kita. Tetaplah bergaul dengan siapa saja, dan jangan berpikir kalo teman yang nampak pemalas dan bandel itu cuma bakal menyesatkan kehidupan kita. Jangan jadi mahasiswa pendiam dan tertutup. Percayalah, suatu saat teman-teman kitalah yang bakal jadi penyelamat kita!

P.S. Tapi ingat! Tetaplah memiliki “sesuatu” yang khas yang bakal menjadi nilai jual kita :D

This entry was posted in The Battle of My Life. Bookmark the permalink.

30 Responses to Anak Kesayangan Dewi Fortuna

  1. setahu saya Dewi Fortuna Anwar itu dulu ilmuwan juga jamannya Habibie

  2. dobelden says:

    tak kira mbahas bal2an :D

    * jalani hidup dengan optimis dan sante malah bisa menghasilkan yg luar biasa

    Selamat dech ya…

  3. * Ade sedang mencari inti dari tulisan *

    -Ade-

  4. maruria says:

    Wah..jan pancen ko untung tenan yo sampeyan iki joe…

  5. Payjo says:

    Intinya, kuliah ga lulus2 di Jogja sana itu sudah sebuah kenormalan semata,kan? *lirik oom Antobilang*

  6. dodo says:

    Kreativitas mereka bakal terpasung kalo mereka malah bersikeras untuk jadi mahasiswa patuh, pintar, dan pendiam yang berencana lulus kuliah secepatnya.

    Aku menyebut mereka sebagai “teman-temanku yang cerdas dan ekspresif”!

    Sepakat boss…!!

  7. Konon joe, katanya neh ya, yang bahagia berhura-hura beruntung di dunia, justru akan sengsara di akhirat… :mrgreen:

    Eh, saya ga do’aken loh ya…. Saya mau kita semua bahagia dunia akhirat!

  8. Amed says:

    Ngebaca jalan cerita hidupmu aku ingat seseorang Joe…
    *Manggil Farid buat konfirmasi*

  9. Dekisugi says:

    ardianto:::
    ya, ya, ya…

    iman brotoseno:::
    serasa pernah denger namanya :P

    dobelden:::
    yang saya pelajari dan lihat selama ini memang begitu, oom

    Sayap KU:::
    sudahkah ditemukan? :D

    maruria:::
    kontradiktif! joe atau untung?
    satu nama aja mbak :mrgreen:

    Payjo:::
    oh, normal kok. makanya fatwa ttg maksimal 14 semester itu sebenernya cuma formalitas aja :D

    dodo:::
    hore!

    manusiasuper:::
    ah, islam kan agama yg seimbang dunia-akhirat. jadinya ya pasti seimbang juga, kok. jumlah seneng2 di dunia sama dengan jumlah seneng2 di akhirat. makanya saya ndak mau jadi orang susah :P

    Amed:::
    siapa? farid?

  10. antobilang says:

    kang, piye sekripsine?

    *le nulis karo ngelus dodo*

  11. pacul says:

    lha…nek urung lulus kuwi yo termasuk ketiban dewi fortuna to?

    *mlayuuu*

  12. eh, ini Bram yang ikut kita nyangkruk di angkringan tugu dulu ya?

    hwaaa… ketemu juga sama (mantan) homokmu itu Joe…
    :lol:

  13. scouteng says:

    ini pembelaan ya buat yang lulusnya molor.. hore gak perlu susah-susah buat cari argumen.. ntar teman-teman tak tunjukin tulisan ini..

  14. rozenesia says:

    Apakah Solo jadi ketiban sial kena banjir akibat keberuntungan engkau? :P

  15. bacteria says:

    iyo mas , sederhananya manusia itu makhlkuk sosial

  16. Hohoho, secara tidak langsung ini menyiratkan bahwa masuk kelas IPA hanya untuk pemuasan sikap prestise adalah percuma. :D

  17. toim says:

    ati2 loh joe, keberuntungan gak selamanya memayungi kmu :)

  18. detnot says:

    Beli dewi fortuna bisa gk joe?

    *lagi perlu nih

  19. Mewakili Joe.

    Ada, waktu itu saya melihat iklan Perma** Ceri*, mereka mempunyai 10 Toyota Fortuna.

    *Coba bayangkan kalau ini adalah sebuah plesetan. :mrgreen: *

  20. marinta says:

    Tetaplah bergaul dengan siapa saja, dan jangan berpikir kalo teman yang nampak pemalas dan bandel itu cuma bakal menyesatkan kehidupan kita. Jangan jadi mahasiswa pendiam dan tertutup. Percayalah, suatu saat teman-teman kitalah yang bakal jadi –perantara– penyelamat kita!

    setuju

  21. chandra says:

    bukan mau komen..walo salut juga kalo dikau bisa seberuntung itu..!
    eh, mataku yang rusak ato emang dikau menambahkan desain salju turun di blog ini?
    regards!

  22. Kang, gambar saljune koyok mataku lagi berkunang-kunang T_T

  23. Pingback: El Nino Boxed #9th at Boxing Day! Liverpool One Step Closer to The Title! « The Hermawanov

  24. abee says:

    skripsimu, lek!
    memang kita butuh teman, namun jangan njadiin itu sebagai “ketergantungan”
    *introspeksi diriku sendiri*

  25. izzul says:

    aku termasuk temenmu yang kreatif plus reaktif itu kan to le?
    *geer mode = on*

  26. tiyokpras says:

    Sejujurnya sepakat…
    Tapi, hiks, nyadarnya telat. Coba waktu SMA dulu aku begajulan. Waktu kuliah ini aku seringnya malah nongkrong di Gelanggang, bukan di kampus. Hehehe… Pembalasan zaman SMA.

  27. sapto says:

    Ga lupa bersyukur kan Joe?
    ga ada Dewi Fortuna, yang ada Dia

  28. Lambhenya says:

    Woo.. nda semua kancamu ra rampung kuliahnya jhon..
    Semua pasti rampung nantinya..

    ~ Cuman masmu yang nda rampung rampung ~

  29. vend says:

    jadi inget postinganku tentang lulus ideal, yan sebenernya mo buat nyindir orang2 yang buru2 lulus trus habis lulus ndak tau mo ngapain :p

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>